Bagaimana Cara Menghasilkan Uang dari Internet?

Selamat pagi sobat blogger. Apa kabar hari ini? Mudah-mudahan masih diberi kesehatan oleh-Nya. Pagi ini saya ingin posting bagaimana cara menghasilkan uang dengan blog yang kita punya maupun tanpa blog. Sebenernya hal ini sudah sangat umum, banyak blog-blog yang menampilkan postingan mengenai bagaimana cara menghasilkan uang diinternet dengan blog maupun tanpa blog. Nah disini saya hanya ingin sharing aja mengenai situs-situs yang memungkinkan untuk menghasilkan uang, baik melalui blog maupun langsung dari internet.

Menjadi pertanyaan hampir semua orang, bagaimana caranya menghasilkan uang
dari internet? Dari berbagai sumber uang yang saya ketahui, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghasilkan uang diinternet, yakni:

PTC
PTC, singkatan dari Paid to Klik adalah sebuah website yang memberikan program bisnis/
kerja di internet dan membayar setiap membernya untuk setiap klik iklan yang disediakan dan
menunggu beberapa detik untuk melihat iklan yang mucul hingga ada tanda khusus bahwa telah
berhasil melakukan perintah klik tersebut. Biasanya tanda yang muncul berupa tanda conteng(v) atau tulisan done, dan lain-lain. Setelah itu baru anda diijinkan mengklik link iklan yang lain. Beberapa PTC luar yakni:

1. http://bux.to
2. http://www.neobux.com
3. http://bux3.com
4. http://www.linkgrand.com
5. http://isabelmarco.com
6. http://adbux.org
7. http://www.titanclicks.com
8. http://www.pandabux.com

Beberapa PTC versi lokal:

1. http://www.klikajadeh.com
2. http://ngebux.com
3. http://www.indoptc.com

Pada PTC, tanpa memiliki blog pun bisa menghasilkan uang dari internet.


PPC
PPC yang mempunyai kepanjangan Pay Per Click adalah sebuah program bisnis internet yang membayar setiap membernya untuk memasang iklan pada blog/Website mereka. Pada program kepemilikan Blog/web sangat mutlak. Setiap ada pengunjung website tersebut dan mengklik iklan yang dipasang oleh member tersebut, maka pemajang iklan/publisher(member) akan mendapatkan komisi dari situs PPC. Berikut dua PPC lokal:

1. http://kumpulblogger.com
2. http://www.adsensecamp.com

Baru ini aja dulu yang saya share ke sobat, mudah-mudahan bermanfaat.
Baca Kelanjutannya Yuk_^
Posted on Senin, Juni 14, 2010 by Agus_Tomy and filed under | 1 Comments »

Word to PDF converter (Mengubah file doc. ke PDF)

Apa kabar sobat blogger? Mudah-mudahan hari ini pada sehat semua ya.
Kali ini saya mau berbagi nih. Mungkin sudah banyak yang tau ya, tapi bagi yang belum tau dan yang belum punya aplikasi ini, mudah-mudahan berguna ^_^.

Ini aplikasi untuk mengubah atau convert dari file MS.Word ke PDF. Sebenernya banyak juga program/aplikasi untuk mengubah file doc. ke PDF, tapi kebanyakan masih bersifat trial atau baru uji cobanya doank. Jadi waktu di convert, hasilnya pasti ada pesan sponsor yang sangat mengganggu pemandangan (hehehe...).

Ada juga sih situs-situs yang menyediakan jasa convert secara online seperti www.fastpdf.com , jadi user tinggal masuk ke situsnya dan browse dokumen yang ingin di convert dari komputer, trus save output dalam bentuk pdf. di komputer. Nah masalahnya, cara ini perlu koneksi ke internet. Trus bagaimana yang secara ofline, atau yang simpel tanpa koneksi ke internet tapi hasilnya memuaskan???

Nah ini dia sobat blogger, saya punya aplikasinya nih, namanya Word to PDF Converter. Aplikasi ini masih versi 3.0 sob, mungkin ada yang lebih terbaru lagi. Tapi menurut saya yang ini pun sudah lebih dari cukup (hehehe...). Lanjut sob, silahkan download aplikasinya disini: Word to PDF Converter 3.0

Nah setelah sobat download, silahkan diinstal di komputer sobat (klik setup.exe) yang ada di dalam rar. Selanjutnya untuk mengubah file doc. ke pdf:

-buka file doc. sobat
-kalo di word 2007, ada tambahan di menu bar (Add-Ins). Klik menu Save As Pdf.
-pertama kali menggunakan program ini, akan muncul pesan untuk register. Klik tombol register, trus masukin nama dan serial number yang sudah disertakan dalam rar dengan nama Sn.txt
-nah selanjutnya sobat dapat menyimpan file doc. dalam bentuk pdf tanpa ada kendala (insyaAllah ^_^)

Mudah-mudahan bermanfaat bagi sobat yang belum punya ya, maaf nih kalo bahasa penulisan dan penampilannya kurang menarik, maklum masih baru sob.

Salam Ukhuwah.
Baca Kelanjutannya Yuk_^
Posted on Rabu, Juni 09, 2010 by Agus_Tomy and filed under , | 10 Comments »

Belajar


Baru buat banner nie. Tadi pagi belajar otodidak, ternyata gak terlalu susah. Pake photoshop CS3, edit-edit gambar, trus di jadiin animasi di windows --> animasi pada menu photoshop CS3, simpen sebagai file .gif, trus jadi deh. Emang masih sederhana sih, tapi lumayanlah daripada gak bisa sama sekali . . hehehe Lain kali belajar apa lagi ya??? Pengennya sih bisa buat template sendiri, tapi gak ngerti masalah kode-kode HTML, XHTML, or CSS. Yah yang namanya belajar kan bertahap (step by step), jadi cari yang mudah-mudah aja dulu. Siapa tau lama-lama bisa bikin template blog sendiri, jadi ahli web design . . hehehe (ngarep bolehkan). Dah dulu ah, udah sore. Pulang dulu, istirahat, mandi, jalan-jalan sore (JJS). Rihlah itu penting untuk penyegaran sehabis beraktifitas.
Baca Kelanjutannya Yuk_^
Posted on Rabu, Juni 09, 2010 by Agus_Tomy and filed under | 2 Comments »

Bersenandung dulu Yuk ^_^

Wah, siang-siang gini enaknya ngapain ya...
Bosen juga nie kalo lagi gak ada kerjaan kayak gini...
Sambil blog walking, mari kita bersenandung yuk...
Nie lagunya Tim Nasheed "edCoustic" nih sob...
Nih aku kasih lirik plus cordnya ya_^

Nantikanku di Batas Waktu

Am Dm
Di kedalaman hatiku
G C
Tersembunyi harapan yang suci
F Dm E
Tak perlu engkau menyangsikan

Am Dm
* Lewat kesalihanmu
G C
Yang terukir menghiasi dirimu
F Dm E
Tak perlu dengan kata-kata

Am F
Sungguh, walauku kelu
G C
Tuk mengungkapkan, perasaanku
Am F Dm
Namun penantianmu, pada diriku
G
Jangan salahkan

C G
Reff: Kalau memang, kau pilihkan aku
Am Em
Tunggu, sampai aku datang
F C
Nanti, kubawa kau pergi
Dm G
Ke Syurga abadi

C G
Kini, belumlah saatnya
Am Em F
Aku, membalas cintamu
C G C
Nantikanku di batas waktu


Baca Kelanjutannya Yuk_^
Posted on Senin, Juni 07, 2010 by Agus_Tomy and filed under , , , , | 7 Comments »

Wisata Kuliner dulu Yuk . . .


Bingung mau posting apa nih...
Tadi sempet makan siang sama dendeng batokok...
Beli di rumah makan "DIDA" padang...
Ternyata enak juga lho...
Nah terinspirasi dari makan siang nih, jadi ingin posting resepnya si dendeng batokok ...
hehehe
Langsung aja nie ya di baca, buat nambah-nambahin ilmu memasak...



DENDENG BATOKOK



BAHAN
:
500 gr daging sapi has dalam
1,5 liter air/air kelapa

Haluskan:
1 sdm ketumbar
5 siung bawang putih
1 cm jahe
2 sdt garam

Sambal:
300 gr cabai hijau
10 bawang merah
5 buah tomat hijau sayur, iris
6 sdm minyak goreng
1/2 sdt kaldu bubuk rasa sapi
50 ml kaldu
1 sdm air jeruk nipis

CARA MEMBUAT:
1. Rebus daging bersama bumbu halus sampai lunak, angkat. Iris daging memotong
serat setebal 1 cm, kemudian ditokok (pukul atau pipihkan pelan-pelan).
Panggang hingga cokelat gelap, sisihkan.
2. Sambal: pukul-pukul cabai hijau dan bawang merah hingga pipih.
3. Panaskan minyak goreng, tumis cabai merah dan bawang merah sampai harum.
Masukkan kaldu sisa merebus dan kaldu bubuk, didihkan sampai kuah menyusut.
Tambahkan irisan tomat dan air jeruk nipis, masak sebentar, angkat.
4. Penyajian: tata daging panggang dalam pinggan, tuangkan sambalnya dan segera
sajikan.

Untuk: 4 orang

Selamat Mencoba............
Baca Kelanjutannya Yuk_^
Posted on Senin, Juni 07, 2010 by Agus_Tomy and filed under , , , | 0 Comments »

Aku Mencintaimu karena Allah

Dag dig dug duerrrrrr....
Itulah yang aku rasakan jika aku bertemu dengan Fanny.
"Aku kenapa ya To?" tanyaku pada sohib karibku, Anto.
"Waduh, aku bukan peramal Zi, so aku gak tau lah," jawab Anto sambil pergi meninggalkanku.
Ah masa bodo ah, pikirku.

Aku masih duduk dibangku SMA kelas satu, namaku Fauziah, biasa dipanggil Zi oleh teman-temanku. Anto adalah sahabat karibku dari SD. Fanny, yah Fanny adalah primadona di sekolahku. Banyak anak cowok yang naksir dia. Anaknya baik, ramah, murah senyum, gak sombong meskipun dia cerdas dan juara satu umum semester satu kemarin. Akupun tak bisa membohongi diri sendiri kalau aku juga suka sama dia, meskipun dia belum termasuk kriteriaku. Ya, aku ingin punya pacar yang memakai jilbab (meskipun aku sendiri bukan orang yang terlalu paham masalah agama), dan tidak hanya sekedar pacaran doank. Kalau bisa ya sampai ke pelaminan...hehehe...

"Duileee...bengong aja nie, ntar kesambet lho," suara Anto mengejutkanku.
"Ntah lah To, aku masih berfikir, kenapa aku selalu deg degan kalo lagi deket sama Fanny".
"Kan dia cuma temen aja To, lagian dia juga sudah punya cowok."
"Heran deh," kataku sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
"Ah, cuma temen, atau demen nih, hahaha" ledek Anto.
"Wah ternyata, anak Rohis bisa bilang kayak gitu juga ya," balasku.

Ya Anto menjadi pengurus Rohis di SMA, dia mulai tertarik dengan agama setelah masuk SMA ini.
Anto tak mendengarkan kata-kataku, dia langsung pergi begitu saja.

Hari-hari di SMA ku lalui dengan selalu menyimpan rasa penasaranku terhadap apa yang ku rasakan.
Setelah lulus SMA, sampai aku kuliah pun perasaan itu masih ada.
Aku sedikit merasa terganggu dengan perasaan-perasaan yang selalu membayangiku.
Akhirnya ku putuskan untuk mengikuti majelis pengajian bersama teman-teman kuliah.

Awalnya aku hanya ikut-ikutan saja, hanya untuk menyibukkan diri. Tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa inilah yang sangat ku butuhkan. Aku mulai menyukai dunia yang serba islami. Dalam setiap momen pun aku tidak mau ketinggalan. Aku ingin menjadi orang yang berguna dan benar-benar dibutuhkan bagi orang lain.

Sisa waktu kuliah pun tidak ku sia-siakan. Selesai kuliah, setelah pengajian, aku pun bekerja paruh waktu disalah satu rumah makan sebagai pramusaji. Lumayanlah buat nabung untuk keperluan mendadak.

Sudah tiga setengah tahun aku kuliah, tinggal menyelesaikan laporan akhir dan go out dari dunia mahasiswa. Hari ini tidak ada jadwal aku bekerja, jadi sepulang pengajian aku langsung menuju ke kost. Kurebahkan tubuhku diranjang, kupejamkan mata sekedar tuk menghilangkan penat yang ada, sebelum akhirnya handphone ku berbunyi.

"Halo, assalamu'alaikum," sapaku.
"Wa'alaikumsalam," jawab sang penelpon.

Kayaknya suaranya tidak asing bagiku.

"Siapa ini, ada perlu apa?" tanyaku.
"Eh, kau sudah tidak kenal suaraku ya Zi? Jahat sekali kau," kata orang tersebut.
"Emmm ma'af, memang kayaknya aku sudah pernah denger, tapi aku bener-bener lupa," jawabku lugu.
"Wah Zi, kau sudah tidak ingat lagi dengan sohibmu sendiri dari SD. Ini aku, Anto."
"Antooo," seruku.
"Masya Allah, khaifa khaluk ya akhi," sapaku riang.
"Alhamdulillah ana khoir, antum gimana?"
"Ana Alhamdulillah khoir."

Terjadilah percakan singkat antara aku dan Anto. Ternyata selama ini Anto masuk pesantren. Padahal ku pikir Anto kuliah di Universitas Negeri, karena dia dulu lulus tes di salah satu perguruan tinggi negeri.
Menjelang maghrib, kami akhiri obrolan singkat kami. Anto pun mengajakku bertemu jika ada waktu.

Hari sabtu, dimana jadwal kuliahku tidak padat, kusempatkan diri untuk menemui Anto.
Kami ngobrol panjang lebar tentang dunia kami saat ini, dunia yang telah kami jalani masing-masing.
Sampai akhirnya Anto berbicara masalah pernikahan.

"Zi, antum udah siap nikah belum?"
"Wah, kalo ana sih siap selalu To, tinggal cari calon istri yang mau sama saya saja," jawabku ringan.
"Ana punya calon, kalau mau nanti ana ketemuin sama dia," kata Anto.
"Beneran nih To, kirain bercanda."
"Siapa To calonnya?" tanyaku antusias.
"Ada deh, yang pasti kamu udah kenal kok dengannya," jawab Anto
"Tapi kamu masih inget kan To kriteria ku?" tanyaku kembali.
"Antum tenang saja Zi, insyaAllah dia lebih dari sekedar kriteriamu itu," kata Anto meyakinkan.

Dua minggu dari pertemuanku dengan Anto, dia kembali meneleponku.

"Assalamu'alaikum akhi, antum ada waktu gak?" tanya Anto.
"Wa'alaikumsalam, ada akhi. Emangnya kenapa?" aku balik bertanya.
"Bisa temui aku di Masjid Nur Adzim sore ini ba'da Ashar?" tanya Anto kembali.
"InsyaAllah bisa," kataku.

Dimasjid Nur Adzim, aku duduk didampingi Anto menunggu kedatangan seseorang yang aku tidak tau.
Setelah kira-kira lima belas menit menunggu, datang tiga orang ukhti.
Aku tak bisa melihatnya karena terhalang hijab.

Akhirnya percakapan pun dimulai antara kami, aku dan Anto serta ketiga ukhti tadi.

"Akhi Fauziah, apakah antum bener-bener sudah siap menikah?" tanya salah satu ukhti tadi padaku.
"InsyaAllah jika ini jalan yang terbaik bagiku untuk menjalankan sunah Rosul dan sebagai jalanku mendekatkan diri pada Allah, aku siap," jawabku dengan tegas.
"Baiklah kalau begitu, kita langsung ketahap perkenalan saja," kata ukhti yang satunya.

Hijab perlahan-lahan dibuka oleh Anto.
Kulihat sekilas wajah teduh calon istriku, calon pendamping hidupku, calon pengasuh dan pendidik anak-anakku, dan pembawa rahmatan lil 'alamin di rumahku nanti.

Aku tertunduk. Mataku basah. Aku tercekat. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Yang kulihat sepintas, semuanya tersenyum.

Setelah tertunduk dan terdiam beberapa saat, aku memberanikan diri untuk mengangkat wajah dan memperlihatkan senyum terbaikku.

Ya Allah, ternyata ini jawaban dari perasaan yang dari dulu selalu membayangiku. Perasaan aneh yang muncul jika aku bertemu dengannya. Ya, ternyata karena dia adalah calon pendampingku menuju keridhoanMu.

Fanny, ya dia kini telah berubah. Inikah yang dikatakan Anto lebih dari sekedar kriteriaku?

Subhanallah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Dengan jilbab panjang yang ia pakai, Fanny terlihat lebih bercahaya dengan senyum yang terpancar dari wajahnya membuat ia layaknya bidadari dunia dan akhirat.

Fanny, aku mencintaimu karena Allah.


Baca Kelanjutannya Yuk_^
Posted on Kamis, Juni 03, 2010 by Agus_Tomy and filed under , , | 7 Comments »

Cinta Sebuah Jiwa

Pada suatu ketika, terdapat sepasang kekasih yang berniat meminta izin utk melakukan pernikahan. Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.

Melalui ta'aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk
melanjutkannya menuju khitbah.

Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang
perempuan.

Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru
pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang
sekarang amatlah berbeda.

Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka
menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang
lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk 'merebut'
sang perempuan muda, dari sisinya.

"Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?" tanya sang setengah baya.

"Iya, Pak," jawab sang muda.

"Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? " tanya sang setengah baya sambil
menunjuk si perempuan.

"Ya Pak, sangat mengenalnya, " jawab sang muda, mencoba meyakinkan.

"Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak
bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model
seperti itu!" balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, "Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal
sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu."

"Lamaranmu kutolak. Itu serasa 'membeli kucing dalam karung' kan, aku
tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.

Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?" balas sang setengah baya,
keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki
muda. Bisiknya, "Ayah, dia dulu aktivis lho."

"Kamu dulu aktivis ya?" tanya sang setengah baya.

"Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di
Kampus," jawab sang muda, percaya diri.

"Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama
istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo
rumahku ini kan?"

"Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak
yang nggak datang kalau saya suruh berangkat."

"Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok
mau ngatur keluargamu?"

Sang perempuan membisik lagi, membantu, "Ayah, dia pinter lho."

"Kamu lulusan mana?"

"Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus terbaik
di Indonesia lho Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM ini
tho? Menganggap saya bodoh kan?"

"Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya
saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak."

"Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik
anak-anakmu kelak?"

Bisikan itu datang lagi, "Ayah dia sudah bekerja lho."

"Jadi kamu sudah bekerja?"

"Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera
jualan produk saya Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu
nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu."

"Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak
terlalu laku."

"Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau
kerja saja nggak becus begitu?"

Bisikan kembali, "Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya."

"Rencananya maharmu apa?"

"Seperangkat alat shalat Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf."

"Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan
uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku."

Bisikan, "Dia jago IT lho Pak"

"Kamu bisa apa itu..., internet?"

"Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya
nge-net."

"Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran
untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata."

"Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak."

"Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter,
Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu."

Bisikan, "Tapi Ayah..."

"Kamu kesini tadi naik apa?"

"Mobil Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya
Riya'. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik."

"Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir"

"Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini
namanya payah. Memangnya anakku supir?"

Bisikan, "Ayahh...."

"Kamu merasa ganteng ya?"

"Nggak Pak. Biasa saja kok"

"Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang
cantik ini."

"Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal
selingkuh!"

Sang perempuan kini berkaca-kaca, "Ayah, tak bisakah engkau tanyakan
soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?"

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang
muda yang sudah menyerah pasrah.

"Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur'an dan Hadits?"

Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.

Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, "Pak, dari tiga puluh
juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.

Hadits-pun cuma dari Arba'in yang terpendek pula."

Sang setengah baya tersenyum, "Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup.
Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku
masih tertatih."

Mata sang muda ikut berkaca-kaca.

*** Kiriman dari Ukhti JILBABER : Silmi Siti Amila Rafiani

Baca Kelanjutannya Yuk_^
Posted on Selasa, Maret 02, 2010 by Agus_Tomy and filed under | 1 Comments »